Sesungguhnya aku tak mengerti dengan hiruk-pikuk politik akhir-akhir ini, khususnya antara sebagian anggota DPR dan Sri Mulyani. Berawal dari investigasi skandal Bank Century, dimana pansus DPR menganggap telah terjadi praktik melawan hukum dalam hal pengucuran dana bagi Bank Century. Sri Mulyani dianggap salah satu orang yang berpotensi melawan hukum dalam kasus Bank Century, menurut pansus DPR.
Perseteruan DPR dan Sri Mulyani berlanjut pada saat pengajuan RAPBN oleh Sri Mulyani (saat menjadi menkeu), dimana fraksi PDIP dan HANURA menolak kehadiran Sri Mulyani dan memilih keluar dari sidang pengesahan RAPBN.
Aku tak mengerti dengan sikap sentimen anggota DPR yang memilih walk-out dari pada membahas RAPBN yang jelas-jelas sangat penting bagi landasan perekonomian bangsa kedepannya. Ego dan kepentingan kelompok mengalahkan kepentingan bangsa secara keseluruhan. Sungguh perbuatan yang tidak mulia dari DPR yang (katanya) terhormat itu.
Saat ini diberitakan Sri Mulyani menerima tawaran berkarir di World Bank. Hal ini merupakan kehormatan dan kebanggaan sendiri bagi seluruh bangsa Indonesia, dimana warga terbaiknya dipercaya memegang jabatan penting diorganisasi dunia.
Dan lagi-lagi DPR kasak-kusuk, tepatnya kebakaran jenggot mendapat kabar ini. Fraksi PDIP-Gayus Lumbuun-dalam berbagai kesempatan ketika diminta pendapatnya tentang jabatan baru Sri Mulyani menyatakan agar KPK mempercepat proses pemeriksaan terhadap Sri Mulyani. Jelas terbaca bahwa politisi DPR itu ingin KPK segera menetapkan status hukum terhadap Sri Mulyani, yaitu terbukti melawan hukum.
OMG, tiada lelah dari 2009 hingga kini ngotot untuk melengserkan Sri Mulyani, dan ketika ybs sudah lengser masih juga diributkan? Sebenarnya mau apa sih?
